One Hour On Thursday bersama Siti Fadilah Supari
Andri
Dec 04
|00:00
Last Updated on Thu, 25 Mar 2010 17:07
Jakarta, 3 Desember 2009 - Tampil dengan busana sederhana, kemeja dan celana panjang, Siti Fadilah Supari malam itu datang sebagai tamu Raynia Atmadja di acara One Hour On Thursday. Kemacetan sore hari di Jakarta sepertinya tidak mematahkan niat mantan Menteri Kesehatan ini untuk tetap hadir menemani pendengar DeltaFM.Perbincangan dimulai oleh Nia dengan menanyakan apa saja kegiatan Siti Fadilah paska tidak lagi menjabat sebagai menteri. “Saya kembali menjadi peneliti kardiovaskular, menjadi seorang ibu dan nenek. Saya masih juga tetap diminta berjuang agar memastikan bahwa rakyat mendapatkan haknya di bidang kesehatan”. Demikian ungkapnya.
Pertanyaan dilanjutkan dengan meminta tanggapan Siti Fadilah tentang sebuah acara yang baru-baru ini berlangsung dengan tajuk “Siti Fadilah untuk Rakyat”. Penyelenggara acara ini adalah mantan-mantan pasien Siti Fadilah yang merasakan besarnya manfaat yang mereka dapat ketika dia menjabat MenKes. Mantan-mantan pasien ini khawatir jangan-jangan program jaminan kesehatan masyarakat tidak berjalan lagi di kabinet sekarang. Siti Fadilah menanggapi bahwa memang ada yang pernah menghubungi dia agar dia tetap mengawal program-program yang pernah dibuatnya. “Saya katakan, saya akan tetap berjuang dalam koridor-koridor yang saya mampu. Mereka kemudian katakan bahwa mereka juga akan membuat gerakan dari rakyat untuk rakyat. Saya malah mengusulkan untuk menggunakan nama Gerakan Kesehatan saja. Tapi saya tidak tahu kenapa akhirnya mereka jadi memakai nama saya”Program Jaminan Kesehatan Masyarakat [Jamkesmas] yang dikhawatirkan hilang ini, pada era Siti Fadilah memang diberikan gratis kepada 76,4 juta penduduk Indonesia. Dan menurut Siti Fadilah sekarang mereka ketakutan karena di beberapa daerah, bahkan di satu rumah sakit di Jakarta ada tulisan bahwa pasien-pasien Jamkesmas harus membeli obat sendiri. Siti Fadilah dengan nada suara sedikit kecewa menyatakan merasa sangat terlukai dengan kenyataan ini karena, kenapa program yang sudah bagus dan pro rakyat harus diubah jadi seperti itu. Dia memang mendengar bahwa program Jamkesmas itu akan tetap dilanjutkan dengan suatu bentuk asuransi. “Tapi asuransi itu kan suatu bentuk bisnis yang sangat tidak kerakyatan, sangat kapitalistis”, sambungnya.
Sepertinya nama Siti Fadilah Supari tidak hanya melekat di benak para pasiennya, tapi juga berkesan untuk Nukman Lutfi, CEO dari Virtual Consulting. “Orangnya kalau kita tidak ketemu langsung, itu kesannya ramah, lembut, senyumnya juga mudah mengembang. Tapi ketika kita sudah ketemu langsung, orangnya ternyata sangat berapi-api dan semangatnya tinggi. Itu sangat terlihat ketika kasus dimana Indonesia dibuat semena-mena oleh pihak luar karena kasus flu burung”, demikian kesan Nukman untuk Siti Fadilah.
“Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Flu Burung”, adalah buku Siti Fadilah yang sempat membuat geger. Ketika ditanya sudah berapa banyak buku itu terjual, Siti Fadilah menjawab bahwa dia tidak terlalu memikirkan itu. Dia tidak bertujuan mencari uang dari penjualan buku itu, tapi lebih kepada karena ingin menebarkan semangat kepada semua orang, semangat untuk jangan pernah takut dalam mempertahankan dan memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Siti Fadilah bahkan merasa senang bahwa bukunya tersebut ternyata juga dibajak, difotokopi dan bahkan kemudian ada yang menterjemahkannya ke dalam bahasa Amerika Latin. “Dokter Siti Fadilah Supari orangnya sangat teguh dan tekun tapi tetap supel dan suka guyon. Menyenangkanlah pokoknya”, begitu kesan lain yang datang dari Dr. Djoko Mariyono salah seorang kerabatnya yang kebetulan juga salah seorang narasumber tetap di DeltaFM. Dokter Djoko juga menambahkan bahwa Siti Fadilah yang dia kenal adalah dulu orang yang senang menyanyi dan senang dansa. Selain itu sebagai sesama ahli jantung, dokter Djoko menyatakan bahwa Siti Fadilah adalah seorang yang terampil, memiliki skill yang tinggi, pengetahuannya sangat luas sehingga banyak penelitian dan tulisannya yang bisa dimanfaatkan sampai sekarang ini.
Mengaku menyenangi lagu-lagu romantis, ternyata Siti Fadilah juga sangat menyukai lagu “I Can’t Live Without You” yang menurut dia cocok untuk dipersembahkan kepada orang yang sangat dicintainya. Rasa cinta yang besar inilah yang juga akhirnya menggugah Siti Fadilah untuk menuliskan buku terakhirnya yang berjudul “Tatkala Leukemia Meretas Cinta”. Siti Fadilah menjelaskan bahwa buku itu bercerita tentang seorang perempuan biasa, yang kebetulan menjadi seorang menteri. Kisah berawal pada Oktober 2008, ketika masa tugasnya sebagai seorang menteri akan segera berakhir sehingga dia harus betul-betul mempersiapkan bahwa program-program yang sudah dia jalankan akan tetap terlaksana nantinya. Dengan suara bergetar Siti Fadilah melanjutkan “tetapi pada saat yang bersamaan, team dokter memvonis bahwa suami saya menderita leukemia dan akan meninggal kira-kira tiga setengah bulan lagi. Jadi saya merasa perlu menulis karena saya merasa buku ini akan sangat berharga, paling tidak untuk anak-anak saya”.
Raynia kemudian bertanya lebih jauh tentang bagaimana Siti Fadilah menjalani cobaan ini. Pada waktu suaminya terdiagnosa dan tahu akan meninggal, Siti Fadilah bertanya kepada suaminya apa yang diinginkannya. Lalu suaminya menjawab bahwa dia ingin sebelum meninggal dia bisa melihat taman yang ada di belakang rumah dinas, lalu juga ingin merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke-36. Siti Fadilah sempat ragu ketika itu, apa sempat? Karena ketika suaminya menyampaikan keinginannya itu, itu adalah bulan Desember 2008, sementara ulang tahun pernikahan mereka adalah pada bulan Maret. Dengan terus berdoa, akhirnya mereka bisa melewati, pertama pesta tahun baru 2009, namun suami berada di kamar kaca dan tidak seorang pun bisa menyentuhnya, kemudian pesta ulang tahun suami pada 17 Februari 2009, ketika itu suaminya sudah bisa keluar kamar dan ikut bernyanyi. “Dan akhirnya pada bulan Maret, ulang tahun pernikahan kami, suami saya ternyata ada di rumah sakit, dan saya terpaksa bawa dia dari rumah sakit untuk pulang ke rumah”, kenang Siti Fadilah.
Tia Nastiti Purwitasari, puteri tertua dari pasangan Siti Fadilah dan Muhammad Supari malam itu juga ikut berbagi kisah dan kesannya yang mendalam atas kedua orangtuanya. “Ibu itu adalah seorang ibu yang mau melakukan apapun untuk anak-anaknya. Saya sudah sejak kecil diajarkan bahwa kalau mengumpulkan informasi itu harus lengkap. Jadi pernah ketika saya kelas 2 SD, saya pulang dan kasih tahu bahwa ulangan matematika saya dapat nilai sembilan. Terus Ibu pasti akan tanya, sembilan itu di kelas kamu ada berapa orang yang dapat sembilan, ada berapa yang di atas sembilan, ada berapa yang di bawah sembilan. Tapi itu ternyata maksudnya adalah untuk melatih agar anak punya daya analisa yang kuat, dan itu akhirnya saya terapkan juga ke anak saya”.
Tentang perjuangan ibunya dalam mendampingi ayahnya di saat-saat terakhirnya, Tia juga menjelaskan bahwa ketika peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung, ayahnya saat itu sedang dalam kondisi sesak nafas. Tapi karena tugas negara, ibu tetap pergi bertugas karena itu adalah konsekuensinya. Tapi di sisi lain ayahnya juga lah yang menolak untuk selalu ditunggui oleh ibu. Ayah justru berkata bahwa ibu itu milik negara, dibayar oleh negara dan bertugas untuk menjaga rakyat di bidang kesehatan, jadi ayah akan merasa berdosa kalau sampai ibu jutru ada menunggu ayah ketimbang mengurus korban di Situ Gintung.
”Cinta itu tidak selalu berjubah kebahagiaan, tapi kadang-kadang berbaju koyak, ketidakcocokkan. Tapi yang jelas kalau kita merasakan cinta, tidak akan pernah ada penyesalan”. Inspirasi cinta untuk kita semua, sebuah kutipan indah yang disampaikan almarhum Supari di saat-saat terakhirnya kepada istri tercinta, Siti Fadilah.
Chandra M Hamzah yang mengaku tak gentar melawan koruptor, ternyata bisa juga menangis ketika siaran di Delta FM. Itu terjadi ketika ia mendengar suara ibunya dibalik telepon.
One Hours on Thursday (1 O 2) di Afternoon Bright kali ini memang berbeda. Delta FM kedatangan tamu spesial, yaitu seorang aktor senior dan sutradara handal, yang juga ketua badan pertimbangan perfilman nasional periode 2006-2009. Deddy Mizwar yang akrab disapa Bang Haji, sosok yang hangat dan homoris. Banyak cerita menarik yang dimiliki Deddy Mizwar, seperti yang diceritakan oleh teman dekatnya Wahyu (rekan satu team dalam Demi Gisela Citra Sinema). ”Bang Haji itu suka makan.
hanya datang duduk-duduk dan baca koran saja dikantor, tanpa ada kerjaan apapun. Dan akhirnya saat Bang Haji ingin membuat "Lorong Waktu" serial TV, ada kabar baik menghampirinya.
Afternoon Bright kali ini lebih istimewa dari biasanya, sebab Raynia Atmadja siaran bersama Andi F Noya berbincang-bincang tentang Kick Andy's Diary. Banyak aktifitas yang dilakukan diluar sebuah program televisi seperti Kick Andy yang bisa memberi inspirasi Sahabat Delta.
untuk hidup, dengan berjualan sapu, berjalan kaki sepanjang 40 kilometer. Dari berjualan sapu itu